Berita Terbaru :
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, 8 June 2013

Sejarah Google

Sejarah Google
Sepertinya setiap orang yang menggunakan internet pernah menggunakan produk Google. Perusahaan multinasional yang berpusat di Amerika Serikat ini memang telah meluncurkan berbagai produk. Namun, pernahkah Anda berpikir seperti apa sejarah Google? Bagaimana nama Google bisa ditemukan? Bagaimana pula perkembangan perusahaan tersebut hingga dapat sesukses sekarang ini?

Google atau Googol?

Sejarah Google berasal dari proyek mesin pencari bernama BackRub yang dikembangkan pada tahun 1996 oleh Larry Page dan Sergey Brin, mahasiswa pascasarjana ilmu komputer Stanford. Proyek ini beroperasi dengan menggunakan server kampus mereka  selama lebih dari satu tahun.
Setahun kemudian, pada tahun 1997, akhirnya nama Google pun digunakan untuk mengganti nama BackRub. Namun, tahukah Anda bahwa sebenarnya kedua pendirinya memberi nama Googol, bukan Google? Bagaimana sejarah nama Google sehingga nama Googol bisa berubah?
Googol merupakan istilah di bidang matematika untuk bilangan yang direpresentasikan dengan angka 1 dan diikuti dengan seratus angka nol. Filosofinya adalah mereka ingin menjadikan proyek tersebut sebagai sebuah mesin pencari di internet dengan informasi yang tidak terbatas. Namun, sejarah nama Google berawal dari kesalahpahaman. Ketika Page dan Brin menemukan investor-investor yang dapat mendukung proyek mereka, investor-investor tersebut salah mengeja Googol. Ternyata mereka menulis nama Google di dalam cek. Dengan demikian, akhirnya Page dan Brin tidak jadi menggunakan nama Googol dan menggantinya dengan Google.
Awal dari sejarah nama Google memang dimulai pada tahun 1995. Namun, perkembangan Google mulai meningkat pesat pada tahun 1998. Tepatnya pada bulan Agustus, Andy Bechtolsheim, seornag pendiri Sun, memberikan cek dengan jumlah $100 ribu untuk pengembangan proyek ini. Akhirnya pada bulan September Google mengajukan pembentukan badan hokum dan membuat rekening dengan nama perusahaan.

Pengembang yang Tidak Menguasai HTML

Sampai pada saat ini halaman muka Google sangat sederhana, hanya sebuah logo dan kotak untuk memasukkan kata kunci pencarian. Selain sejarah nama Google yang unik, asal mula tampilan Google yang sederhana juga unik. Sejak awal didirikan, Page dan Brin memang menginginkan tampilan halaman muka Google yang sederhana. Selain itu, sebenarnya kedua pendiri Google tersebut tidak menguasai HTML.

Google Saat Ini

Saat ini Google merupakan mesin pencari yang memiliki ukuran raksasa. Indeks pencarian yang dimiliki oleh Google sebesar lebih dari 100 juta gigabyte. Sebagai perumpamaan, indeks pencarian Google membutuhkan penyimpanan 100 ribu buah hard disk berkapasitas 1 terabyte. Dapat Anda bayangkan bagaimana pesatnya perkembangan Google, sejak sejarah nama Google pertama kali dimulai hingga saat ini.
Sejarah nama Google menjadi perusahaan yang besar telah berlangsung sejak lama. Namun, sejak tahun 2008, mesin pencari perusahaan ini berkembang sangat pesat. Pada tahun 2008, Google telah menemukan satu triliun URL unik. Selang empat tahun, yaitu pada tahun 2012, Google telah menemukan URL unik sebanyak 30 triliun. Dapat Anda bayangkan, dalam selang empat tahun, URL unik yang ditemukan bertambah sebanyak 30 kali lipat.
Pada awal sejarah nama Google, perusahaan ini hanya dikenal dengan produk mesin pencari. Saat ini, selain mesin pencari, Google telah memiliki banyak produk karena keseriusannya dalam mengakuisisi berbagai produk yang potensial. Blogger, YouTube, Mototola Mobility, Android, Google Earth, dan Google Maps merupakan produk-produk yang diakuisisi Google. Saat ini produk-produk tersebut juga telah terbilang sukses. Google juga memotret jalanan dengan menggunakan satelit untuk keperluan fitur Street View pada Google Maps. Jika panjang jalan yang telah dipotret oleh Google ditotal, angka yang diperoleh cukup fantastis, yaitu 5 juta mil atau sepanjang 8.046 km.
Selama 17 tahun sejak 1996 sejarah nama Google berkembang, saat ini Google berhasil menjadi perusahaan yang berada di garis depan. Bahkan di bidang digital, Google telah berhasil menjadi sebuah perusahaan terpenting dan terbesar. Namun, uniknya, perusahaan sebesar Google ternyata masih memiliki kesalahan kode pada halaman muka google.com. Kesalahan kode tersebut masih ada sampai sekarang dan mungkin tidak banyak dari pengguna Google yang mengetahuinya.
Read More → Sejarah Google

Saturday, 19 January 2013

Kaos Galgil

Sebagian besar orang mungkin sudah mengenal kaos Joger Bali dan Dagadu Djokdja. Dengan ciri khasnya masing-masing, keberadaan merek-merek tersebut ibarat sudah menjadi identitas bagi daerah masing-masing.
Di Tegal, sejak beberapa tahun terakhir bermunculan produk serupa, yakni kaos Tegalan. Misalnya merek "Umbrus" milik H Tambari, "Jakwir Cetem" milik kakak beradik Erdiansyah Zulyadaini dan M Ersal Aburizal, serta "Galgil" yang lahir dari rembugan sejumlah orang.

Dalam bahasa Indonesia, Umbrus berarti asal berbicara, Jakwir Cetem artinya sahabat karib, dan Galgil hampir mirip dengan pemberani plus sedikit nekat. Umbrus, Jakwir Cetem, dan Galgil, adalah kosakata yang sangat familiar bagi masyarakat Tegal. Tiga kosakata itu bisa dibilang, Tegale por! (Tegal sekali-Red).

Dibalik namanya, kaos Tegalan ternyata bukan hanya sekadar urusan bisnis untung rugi, tapi juga mengandung unsur kampanye budaya Tegal. Itu karena, Tegal dinilai mempunyai karakter yang unik dan berbeda dengan daerah lain.

Penulis terbaik pada kompetisi “Mimpi tentang Tegal“ yang diadakan IDEA Bappeda Kabupaten Tegal dalam rangka HUT Kabupaten Tegal ke-410 beberapa waktu lalu, Akhda Afif Rasyidi, mengatakan, Tegal mempunyai karakteristik yang khas.

Keunikan wong Tegal salah satunya adalah merupakan kaum urban. Mereka yang telah menjadi perantau, dan bahkan pekerja di luar negeri, akan merasakan bahwa Tegal memiliki warna yang sangat berbeda dengan kota lain.

Berbagai warna yang ada di Tegal, dari sisi positif maupun negatifnya, menunjukkan estetika meskipun terkesan subjektif. Hal itu karena semua orang sebenarnya memiliki karakter psikologis dan mental yang berbeda-beda secara genekologis hingga ke struktur masyarakat, ujar lulusan UI 2008 tersebut.

Lebih lanjut, Afif yang kini bekerja sebagai staf di Kementrian Kominfo RI tersebut, menjelaskan, kenapa Tegal dinilai sebagai daerah yang ngangeni lan mbetahi? Jawabannya adalah karena warga Tegal merupakan pelaku migrasi yang sangat luwes.

Meski sukses di negeri orang, mereka akan kangen dengan kampung halaman. Ada semacam kepercayaan pada masyarakat Tegal bahwa merantau adalah salah satu kunci keberhasilan dan bisa dibuktikan di kampungnya. Menurutnya, hal tersebut berbeda dengan orang Minang yang memiliki motto Pergilah, jadilah orang ternama, jangan di kotamu. Tapi di Tegal tidak. Sekaya apapun, sejauh apapun merantau, mereka akan berkeinginan pulang kampung.

Maka, senada dengan hal itu, salah satu founder kaos Galgil Ahmad Zaki menyatakan, embrio munculnya kaos tersebut memang bermula dari pencarian identitas kedaerahan yang selama ini kurang dimiliki oleh masyarakat Tegal, khususnya yang berada di luar kota.

Kaos Galgil lahir dari sebuah forum diskusi semacam Kaskus yang bernama Tegal Cyber Community (TCC) yang dikelola oleh sejumlah orang.
Meski mengadopsi konsep Joger dan Dagadu, Zaki menegaskan, bahwa kaos Galgil memiliki diferensiasi atau perbedaan yang mencolok terutama dalam latar belakang dan karakteristik kedaerahan.

Jika Bali dan Jogja sebagai tempat lahir Joger dan Dagadu merupakan daerah dengan latar belakang pariwisata, maka Tegal sebagai tanah kelahiran kaos Galgil memiliki keunikan tersendiri. “Tegal tidak didukung dengan infrastruktur pariwisata seperti Bali dan Jogja. Tapi Tegal merupakan daerah kaum urban. Sebagian masyarakat Tegal bekerja dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan bahkan ke luar negeri,“ terangnya.

Beragam Tema Mendasari latar belakang itu, kaos Galgil mengeluarkan produk pertama yang bertema "Aja Klalen, Back to Tegal". Tema itu, menurut para foundernya, terilhami dari fenomena banyaknya orang Tegal di perantauan yang selalu kangen dan mudik ke kampung halaman.

Demikian juga dengan kaos Jakwir Cetem. Pencetus ide kaos tersebut, M Ersal Aburizal pun mengangkat tema serupa. Lewat wangsalan "Lemah lempung pinggir sawah, balik kampung atine bungah", seolah menasbihkan bahwa merindukan Tegal adalah takdir bagi orang Tegal yang merantau.

Jakwir Cetem menjelaskan, kaos bertema pulang kampung dan cinta Tegal bukan merupakan chauvinisme atau semacamnya. Tema itu dimaksudkan agar setiap putra daerah Tegal mencintai dan berkeinginan mengembangkan kotanya sehingga dapat selalu tampil di kancah pembangunan.

Selama ini, banyak orang Tegal yang malu dan kurang bangga dengan daerahnya sendiri. Pada intinya, kami ingin mengampanyekan budaya Tegal kepada masyarakat luas melalui kaos, tambah Zaki.

Selain kembali ke kampung halaman, beragam tema juga diusung oleh para tim kreatif masing-masing. Di antaranya yaitu tentang tradisi, kuliner, objek wisata, dan tempat-tempat bersejarah di Tegal.

Pada beberapa keluarannya, Galgil dan Jakwir Cetem juga menyoroti persoalan-persoalan kekinian, serta menyelinginya dengan pesan moral. Seperti saat menyikapi penangkapan teroris di Karanganyar Kecamatan Dukuhturi, Galgil mengeluarkan kaos bertema "Sung Nyong Dudu Teroris" (sumpah, saya bukan teroris-red).

Adapun saat harga sembako melonjak, Jakwir Cetem mencetuskan kaos bertuliskan "Rega padha Mundhak, sing Mlorod, mung Kathok" (harga pada naik, yang turun cuma celana-red). Konsep lainnya, diantaranya tentang wejangan-wejangan hidup berbahasa Tegal yang cukup mengena, seperti "Dadi Wong Sugih Aja Nggo Kadiran" dan "Jare Wong Tua Urip Aja Onggrongan" karya Jakwir Cetem, serta "Aja Isin Dadi Wong Tegal" dan "Biar Ngapak asal Kompak" oleh kaos Galgil.

Untuk pemasaran produk, selain menggunakan cara konvensional yakni membuka outlet Jakwir Cetem di Jalan Raya Karanganyar Dukuhturi, dan Galgil di Jl Raya Pesayangan Talang, keduanya juga aktif berpromosi melalui akun facebook dan website.
Read More → Kaos Galgil

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...